Andriyansah, S.IP
MENYEBUT nama Soekarno atau Bung Bung Karno, tentu sudah cukup familiar di telinga publik Tanah Air. Bahkan, juga dunia. Proklamator RI yang juga orator ulung yang lahir pada 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970, diakui banyak kalangan sebagai Bapak Nasionalisme Indonesia.
Anggapan itu tak salah, selain sebagai penghormatan sekaligus penghargaan terhadap sosok Soekarno, dari perjalanan sejarah Soekarno, sering dinyatakan sebagai pencipta arus utama yang membentuk karakter dasar nasionalisme Indonesia.
Lebih jauh tentang Bung Karno, ia juga merupakan penulis yang handal. Dari buku-buku yang ditulisnya kita bisa mengenalnya lebih dekat, sistematis, dan mendalam. Dari beberapa sumber catatan sejarah karya-karya Soekarno ditulis selama masa penahanannya oleh pemerintah kolonial Belanda.
Diantaranya yakni Indonesia Menggugat (1930), naskah pembelaan ini ditulis Soekarno di sel Penjara Banceuy, Bandung, setelah beliau ditangkap akibat aktivitasnya di Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Naskah ini dibacakan di depan pengadilan Landraad.
Tulisan, dan gagasannya kemudian dituangkan Di Bawah Bendera Revolusi serta karya yang menceritakan kesehariannya sebagai tahanan. Kisah lengkap perjuangan Bung Karno yang menyuarakan perlawanan dari balik dinding selnya menjadi tonggak penting dalam sejarah bangsa Indonesia
Serta, buku Mencapai Indonesia Merdeka. Buku ini ditulis sebagai respon atas tulisan Profesor Veth “Bahwa Indonesia tidak pernah merdeka, dari zaman purbakala sampai sekarang. Indonesia akan tetap menjadi negara jajahan, yang semula jajahan Hindia lalu dijajah Belanda”. Buku singkat namun padat ini membawa kita pada tahun 1920-1933.
Serta, Sarinah. Buku ini berisi kumpulan materi kursus wanita dalam berjuang dan berpolitik (1963). Sarinah, merupakan sosok wanita yang paling dihormati Bung Karno semasa hidupnya. Bukan ibunya, bukan juga istrinya. Ia Adalah wanita desa yang menjadi pengasuhnya saat kecil.
Kembali ke soal nasionalisme. Menurut Bung Karno, dikutip dari berbagai sumber, nasionalisme itu tak sekadar bermakna mencintai Tanah Air Indonesia, tapi juga kerangka berpikir untuk menjelaskan sikap kebangsaan Indonesia yang sesungguhnya.
Gagasan Bung Karno tentang nasionalisme Indoneia pada periode itu terangkum di dalam buku kumpulan tulisannya yang berjudul Dibawah Bendera Revolusi (jilid I).
Melansir dari jurnal Universitas Gajah Mada, menurut Soekarno, nasionalisme adalah perasaan cinta tanah air yang berdasarkan pada perikemanusiaan.
Nasionalisme Indonesia tidak boleh menjadi chauvinisme (mengagungkan bangsa sendiri secara berlebihan) melainkan harus menjadi sosio-nasionalisme—paham kebangsaan yang menentang imperialisme dan kapitalisme, sekaligus berorientasi pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Pilar-pilar utama nasionalisme Soekarno yakni nasionalisme yang perperikemanusiaan yaitu kecintaan pada bangsa Indonesia harus diiringi dengan rasa hormat terhadap kemerdekaan bangsa lain.
Soekarno mematrikan nasionalismeku adalah perikemanusiaan. Selanjutnya, Sosio-Nasionalisme yakni nasionalisme yang digabungkan dengan cita-cita sosial. Bung Karno menolak nasionalisme yang hanya mementingkan negara tanpa peduli pada kesejahteraan rakyat kecil (kaum Marhaen).
Selanjutnya, persatuan dalam keberagaman yang menegaskan nasionalisme Soekarno adalah perekat bagi seluruh rakyat Nusantara yang melintasi batas-batas suku, agama, dan golongan menjadi satu kesatuan bangsa yang utuh.
Juga, anti-imperialisme dan anti-Kapitalisme yang mengedepankan paham kebangsaan berfungsi sebagai senjata ideologis untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah dan sistem ekonomi yang eksploitatif.
Tujuan nasionalisme ala Bung Karno adalah untuk pertahanan negara Indonesia. Pandangan Bung Karno, nasionalis sejati timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan. Nasionalis yang menerima rasa nasionalisme sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti.
Pemikiran Soekarno yang popular dengan sebutan Marhaenisme merupakan suatu ideologi kerakyatan yang mencita-citakan terbentuknya masyarakat yang sejahtera secara merata. Sebagaimana diketahui, Marhaenisme yang digagas Soekarno sudah hadir sejak berumur 20 tahun.
Selanjutnya, marhamenisme jadi landasan tempat pergerakan Soekarno berdiri. Bermula dari pengamatan Bung Karno pada pekerja kecil yang berada di lingkungan sekitarnya. Petani itu dilihatnya menjadi majikan sendiri.
Mereka tidak terikat pada siapa pun. Dia menjadi kusir gerobak kudanya, dia menjadi pemilik dari kuda dan gerobak itu dan dia tidak mempekerjakan buruh lain. Semua menjadi pemilik dari alat produksi mereka sendiri.
Kala Bung Karno menanyakan nama petani, dijawab namanya, Marhaen. “Di saat itu cahaya ilham melintas di otakku. Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia yang bernasib malang seperti dia! Semenjak itu kunamakan rakyatku Marhaen,” kata Soekarno sebagaimana ia ceritakan dalam otobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams.
Marhaenisme adalah sosialisme Indonesia dalam praktik. Perkataan marhaenisme adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional. Ya, asas marhaenisme adalah sosio-nasionalisme dan sosiodemokrasi. Sosio-nasionalisme adalah paham kebangsaan yang sehat.
Dan, sosio-nasionalisme berdasarkan perikemanusiaan, persamaan nasib, gotong royong, hidup kemasyarakatan yang sehat, kerjasama untuk mencapai bahagia, yang pantang menekan atau menindas dan menghisap.
Bung Karno mengatakan bahwa nasionalisme Indonesia haruslah nasionalisme yang mencari selamatnya perikemanusiaan. Nasionalisme Bung Karno adalah peri-kemanusiaan seperti apa yang dikatakan oleh Gandhi. Nasionalisme Indonesia, merupakan nasionalisme yang dengan istilah yang dia sebutkan, yaitu sosio-nasionalisme.
Nasionalisme dalam arti positif, menurut Soekarno, dapat membentuk karakter percaya pada kemampuan diri sendiri serta menumbuhkan ikatan solidaritas. Dalam situasi keterjajahan kala itu, mental semacam ini penting sebagai modal bagi perjuangan nasional menuju kemerdekaan. (*)
Penulis : Pengamat Politik Kabupaten Bogor, Andriyansah, S.IP
