INTELMEDIA — Menghadapi musim panas yang berpotensi memperluas dampak kekeringan di sejumlah wilayah, Pemerintah Kabupaten Bogor menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Selain mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak, pemerintah juga akan membangun sumur bor di titik-titik yang mengalami krisis air sebagai solusi jangka panjang.
Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Bogor, Agus Salim, mengatakan upaya penanganan telah dikoordinasikan bersama sejumlah perangkat daerah, di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkim), serta Dinas Pekerjaan Umum (DPU).
Menurutnya, potensi kekeringan di Kabupaten Bogor masih dapat meluas seiring berlangsungnya musim kemarau. Karena itu, pemerintah daerah diminta tetap siaga agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi.
“Untuk kekeringan, BPBD, Disperkim, dan DPU sudah menyiagakan hal itu,” kata Agus Salim, Minggu (19/7/2026).
Ia menjelaskan, penanganan di lapangan dilakukan melalui pendistribusian air bersih ke wilayah-wilayah terdampak. Sementara itu, pembangunan sumur bor akan diprioritaskan apabila ditemukan titik-titik baru yang mengalami krisis air dan membutuhkan sumber air permanen.
“Pengiriman air sudah dilakukan. Kalau tahun sebelumnya di titik-titik itu sudah banyak sumur bor, kalau ada titik baru lagi maka kami usahakan sumur bor lagi,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bogor, hingga saat ini kekeringan telah berdampak di 17 kecamatan, mencakup 40 desa dan kelurahan. Sebanyak 16.583 kepala keluarga atau 55.958 jiwa terdampak akibat menurunnya ketersediaan air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Kabupaten Bogor telah menyalurkan 467 ribu liter air bersih ke 100 titik yang tersebar di wilayah terdampak.
Pemerintah Kabupaten Bogor bersama perangkat daerah terkait terus melakukan pemantauan terhadap daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan. Distribusi air bersih dan pembangunan sumur bor diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam menjaga ketersediaan air bagi masyarakat selama musim kemarau berlangsung. (**)
