Beni Sitepu
PRESIDEN Indonesia pertama Soekarno atau Bung Karno pernah mengatakan,”beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia. Dan, Bung Karno juga pernah sampaikan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.
Merenungkan apa yang disampaikan Bung Karno, penentu esok Indonesia ini tak cukup jumlah rakyat Indonesia yang besar.
Berdasarkan data resmi pemerintah untuk tahun 2026, jumlah pemuda di Indonesia (usia 16–30 tahun) mencapai sekitar 66,83 juta jiwa. Jumlah ini mencakup kurang lebih 23% dari total penduduk Indonesia, yang saat ini berjumlah sekitar 287 juta jiwa.
Detilnya, data demografi dan statistik kepemudaan nasional rentang usia (UU Kepemudaan): 16 hingga 30 tahun. Persentase Nasional lebih kurang 22,99% hingga 23,50% dari total populasi dengan sebaran geografis lebih dari 53% pemuda terkonsentrasi di Pulau Jawa. Dan, berstatu menikah sekitar 71%, sedangkan pemuda usia 16–30 tahun berstatus belum menikah.
Apa yang disampaikan Bung Karno, masihi relevan dengan kekinian. Pemuda, merupakan aset utama dan garda terdepan penentu arah kemajuan bangsa. Melalui potensi fisik, pemikiran kritis, serta semangat inovasinya, pemuda menjadi kekuatan pendorong perubahan (agent of change) untuk menyongsong visi besar masa depan.
Pemuda juga mengemban peran penting membentuk peradaban bangsa serta pembawa perubahan (Agent of Change). Pemuda, merupakan generasi penerus (Iron Stock) yang menjadi estafet kepemimpinan bangsa dan menjaga nilai-nilai luhur identitas negara.
Bung Karno sudah memberi contoh, ia menjadi presiden pada usia 44 tahun. Tentunya, perjuangan Soekarno menjadi presiden ditebus dengan perjuangan, keringat dan erbulangkali di penjara oleh Belanda. Diantaranya, penjara Banceuy dan Penjara Sukamiskin di Bandung kala itu. Berbeda dengan sekarang, wakil kepala negara karena skenario orangtuanya yang berkuasa.
Bung Karno, adalah presiden pertama Indonesia yang menjabat dari tahun 1945 hingga 1967. Dia adalah tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Sukarno dikenal karena hubungannya yang kuat dengan rakyat Indonesia, termasuk anak muda.
Semasa mudanya, Bung Karno aktif anak muda dalam perjuangan pembangunan negara. Dia melihat anak muda sebagai agen perubahan yang berpotensi untuk membawa inovasi dan pemikiran segar bagi Indonesia. Sukarno memperkenalkan konsep “Marhaenisme”, yang menekankan pentingnya kesetaraan sosial dan pemberdayaan rakyat, termasuk anak muda, dalam pembangunan negara.
Sukarno juga mendirikan organisasi kepemudaan bernama Pemuda Rakyat yang bertujuan untuk menggerakkan semangat nasionalisme dan revolusi sosial di kalangan anak muda. Organisasi ini menjadi platform bagi anak muda untuk menyampaikan aspirasi mereka dan berkontribusi dalam proses pembangunan.
Lebih dari itu, Sukarno sering berinteraksi langsung dengan anak muda, mengadakan pertemuan, diskusi, dan seminar dengan mereka. Dia juga memberikan dorongan dan inspirasi kepada anak muda untuk berani bermimpi, berpikir kritis, dan berperan aktif dalam memajukan bangsa.
Sampai saat ini, pengaruh dan warisan Sukarno tetap relevan bagi anak muda di Indonesia. Beberapa alasannya yakni karena Suekarno merupakan Proklamator Kemerdekaan. Dia juga aktif membumikan nasionalisme. Ia memperjuangkan persatuan dan kesatuan bangsa serta mempromosikan semangat kepemimpinan yang kuat. Anak muda masih menghargai dan terinspirasi oleh semangat nasionalisme dan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Sukarno.
Pada usia mudanya, Bung Karno juga lakukan pendekatan Non-Blok melalui kebijakan luar negeri yang dikenal sebagai “politik luar negeri bebas aktif.” Pendekatan ini mengutamakan kemandirian dan netralitas dalam hubungan internasional..
Selain itu, Sukarno adalah seorang orator yang ulung dan pemikir politik yang visioner. Anak muda terinspirasi oleh retorika dan pidato-pidatonya yang penuh semangat dan memotivasi. Pemikirannya tentang nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme juga masih dipertimbangkan oleh beberapa kelompok muda.
Meskipun Sang Putra Fajar telah tiada, namun perjuangan dan namanya akan abadi. Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Warisi api juangnya, bukan abunya. De miskian wasiat Bung Karno, sang bapak bangsa. (*) Penulis : Ketua KPP Bogor Raya, Beni Sitepu
