Anggota DPRD Kota Bogor, Ence Setiawan, SE
TINGGAL beberapa hari lagi, negeri ini akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81. Bangsa ini patut berbangga hati, karena kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari penjajah. Bukan dari Belanda, atau Inggris, atau Jepang.
Hal itu bisa dibuktikan, pasca proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia masih angkat senjata berhadapan perang dengan Jepang seperti pada Pertempuran Lima Hari di Semarang. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tanggal 15 hingga 19 Oktober 1945.
Setelah Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, perang pun masih berkobar melawan penjajah yang mencoba kembali ingin menduduki Indonesia. Diantaranya Pertempuran Surabaya (10 November 1945): Perang besar antara rakyat Surabaya dan tentara Inggris yang diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Kemudian, Pertempuran Ambarawa (12–15 Desember 1945): perlawanan rakyat di bawah pimpinan Kolonel Sudirman melawan Sekutu di Jawa Tengah. Hingga, meletusnya Bandung Lautan Api (23–24 Maret 1946): peristiwa pembumihangusan Kota Bandung oleh para pejuang agar tidak dikuasai oleh tentara Sekutu.
Juga, Puputan Margarana (20 November 1946): perang habis-habisan rakyat Bali di bawah pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai melawan Belanda. Serta, Agresi Militer Belanda I & II (1947 dan 1948): Serangan berskala besar oleh Belanda untuk merebut kembali wilayah Republik Indonesia secara paksa.
Negara-negara di Asia Tenggara, Vietnam, Filipina, Malaysia, Myanmar, dan Thailand, dikutip dari beberapa sumber, kemerdekaan yang dicapai dengan jalan yang berbeda-beda. Seperti menempuh jalan revolusi bersenjata atau melalui meja perundingan.
Tapi, Indonesia, kemerdekaan yang diraih melalui revolusi fisik yang berdarah-darah. Setelah Indonesia Merdeka, Belanda masih belum mau mengakui kedaulatan Indonesia. Agresi militer pun dua kali lancarkan Belanda demi ingin menduduki Indonesia.
Diplomasi internasional pun dilakukan dari Perjanjian Linggajati (1947), Renville (1948), hingga Konferensi Meja Bundar (1949) yang akhirnya membuat Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Negara yang memiliki kesamaan dengan Indonesia soal kemerdekaan yakni Myanmar (Burma). Di negara tersebut, Aung San dan Tentara Kemerdekaan Burma awalnya bekerja sama dengan Jepang melawan Inggris. Tapi, selanjutnya dikomandoi Aung San berbalik arah melakukan perlawanan terhadap Sekutu. Selanjutnya, pada 4 Januari 1948, Burma resmi merdeka.
Demikian juga Vietnam. Ho Chi Minh memproklamasikan kemerdekaan di Hanoi, pada 2 September 1945,. Tapi berlanjut Perang Indochina Pertama (1946–1954) karena Prancis tak ingin melepas Vietnam. Namun, akhirnya Prancis menandatangani Perjanjian Jenewa 1954.
Sementara, Filipina, Amerika Serikat memberikan kemerdekaan bertahap dan pada 4 Juli 1946 Filipina resmi merdeka. Di negeri tetangga, Malaysia, jalur diplomasi dipilih untuk merdeka. Persekutuan Tanah Melayu merdeka pada 31 Agustus 1957 dari Britania Raya. Kemudian berubah menjadi Malaysia pada 16 September 1963 setelah bergabung dengan wilayah lain.
Sedangkan Singapura, Merdeka pada 9 Agustus 1965 usai resmi berpisah, tanpa perang dan keluar dari Federasi Malaysia. Peristiwa ini terjadi akibat perbedaan pandangan politik dan ekonomi yang tajam antara pemerintah Singapura dan Malaysia.
Lalu, apa makna Merdeka? Presiden Pertama RI atau Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno punya pesan mendalam tentang makna kemerdekaan.
Dihimpun dari berbagai sumber, bagi Soekarno, kemerdekaan bukan sekadar detik-detik pembacaan teks Proklamasi 17 Agustus 1945 atau bebas dari fisik penjajah. Kemerdekaan adalah “jembatan emas” menuju masyarakat adil dan makmur, kebebasan mutlak bagi suatu bangsa untuk menentukan nasib dan politik nasionalnya sendiri tanpa campur tangan asing
Sementara, menurut Wakil Presiden Pertama RI, Bung Hatta, kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan emas atau syarat utama untuk mencapai kedaulatan, kebahagiaan, serta kemakmuran rakyat secara menyeluruh.
Sedangkan makna kemerdekaan bagi Jenderal Sudirman adalah bahwa kemerdekaan sebuah negara didirikan di atas timbunan pengorbanan jiwa, raga, harta, dan benda dari seluruh rakyatnya. Sehingga, keutuhan serta kedaulatan bangsa harus terus dibela tanpa kenal menyerah, bahkan dalam kondisi fisik yang lemah.
Dan, menurut Ki Hajar Dewantara, kemerdekaan adalah karunia Tuhan yang memberikan hak kepada manusia untuk mengatur hidupnya sendiri secara bebas, baik lahir maupun batin, tanpa bergantung pada orang lain. Namun, tetap disertai dengan disiplin diri dan tanggung jawab moral terhadap aturan di dalam masyarakat.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka! (*)
Penulis : Anggota DPRD Kota Bogor, Ence Setiawan, SE
