Beni Sitepu
INTELMEDIA – Massa aksi Aliansi Pemuda Bogor Raya gabungan dari Forum Keluarga Mahasiswa Bogor (FKMB), Pemuda LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) Bogor Raya, Komunitas Pemuda Peduli (KPP) Bogor Raya, gelar unjuk rasa di depan Perumda Bank Kota Bogor, Jalan RE Martadinata, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, pada Senin (5/10/2026).
Salah satu yang jadi sorotan yakni NPL Gross 8,38% dan LDR 137,96% Bank Kota Bogor yang merupakan Perumda atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang seluruh modalnya dimiliki oleh satu daerah dan tidak terbagi atas saham. Ketua KPP Bogor Raya menyampaikan, sebagaimana diketahui, pengelolaan perumda dikendalikan secara langsung oleh kepala daerah atau organ yang ditunjuk seperti Direksi dan Dewan Pengawas.
“Bank Kota diinformasikan NPL Gross 8,38%. Non-Performing Loan atau NPL Gross itu adalah persentase total kredit macet dan kurang lancar dibandingkan total kredit yang disalurkan bank,” kata Beni di sela unras.
Dia melanjutkan, batas maksimal rasio NPL gross atau kredit bermasalah yang dianggap sehat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah di bawah 5,00 persen.
“Sedangkan Bank Kota Bogor, NPL Gross 8,38%. Artinya bank tersebut kurang sehat. Untuk diketahui, NPL kurang dari 2% itu disebut sangat sehat. Nah, jika NPL antara 8% hingga 12%, itu dikategorikan kurang sehat,” tandasnya.
Kembali diteruskan Beni, batas maksimal NPL gross OJK, dalam regulasi menetapkan batas toleransi NPL gross maksimal sebesar 5,00 persen. Sepanjang rasio berada di bawah angka tersebut, bank dikategorikan masih dalam batas toleransi risiko yang sehat.
Beni berujar, soal reputasi bank tidak jauh beda seperti memilih jodoh. Harus dicermati dulu bibit, bebet, dan bobotnya.
“Soal bibit, misalnya, dapat dianalogikan dengan latar belakang bankir. Jika sang bankir sebelumnya berprofesi sebagai pedagang, biasanya, ia juga akan menggunakan cara-cara dagang, dalam mengelola bank,” ucapnya.
Kemudian bebet, sambungnya, dapat diinterpretasikan sebagai kualitas aset bank. Bank yang berkualitas aset baik, lazimnya, pendapatannya juga baik.
“Sementara itu, bobot, dapat ditafsirkan sebagai kemampuan manajemen atau bankir dalam mengelola bank. Biasanya, bankir yang “jam terbang”- nya sudah tinggi akan lebih berhati-hati dalam mengelola bank. Sebaliknya, kalau tak jelas, seperti sopir bus, terindikasi agak ugal-ugalan mengendari bus,” tuntasnya. (Dodo)
