RAMADAN sebentar lagi berpamitan. Ia akan pergi setelah sebelumnya, setiap tahunnya datang membawa cahaya. Ada banyak kenangan tertinggal. Salah satunya, saat Ramadan kita mampu melakukan begitu banyak kebaikan, tetapi setelah Ramadan berlalu semuanya perlahan menghilang?
Ya, Ramadan benar-benar mampu mengubah ritme kehidupan kita. Rasanya baru kemarin kita memulai puasa, namun ternyata tinggal hitungan hari saja kita akan berpisah dengan Bulan Suci Ramadhan 1447 H. Saat pergantian hari, pergantian malam, kini membawa kita di penghujung bulan mulia ini. Ada pertanyaan ke diri sendiri, mungkin juga kita belum optimal melaksanakan ibadah lainnya di bulan penuh ampunan ini. Dan, kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih bisa bertemu ramadhan selanjutnya.
Ada rasa berat kala Ramadhan berpamit pergi. Padahal kita masih butuh terus memperjuangkan diri kita untuk menjadi Islam, dengan cara jangan sampai kehilangan rasa kita menghamba di jalan Allah SWT. Kehilangan rasa berserah kepada Allah pada seseorang, tentunya akan membuat kadar keislamannya menjadi berkurang. Dan, kita akan kembali menjadi Islam saat kembali berserah.
Dikutip dari buku The Power of Ramadhan karya DR. Syamsul Yakin, MS, mengenai ucapan Rasulullah ke para sahabat soal berakhirnya bulan penuh ampunan ini.
“Apabila tiba akhir ramadhan, menangislah langit, bumi dan malaikat.” Mereka berkata, “Musibah apa itu ya Muhammad?”
Rasulullah menjawab: “Musibah hilangnya ramadhan, karena di bulan itu setiap doa dikabulkan, setiap sedekah diterima, setiap kebaikan digandakan, dan azab Allah dijauhkan.”
Dalam buku itu juga disebutkan Rasulullah memperingatkan kita. Menjelang akhir ramadhan seharusnya membuat umat muslim kian menginsyaf diri, merapat dan mendekat ke kehadirat-Nya.
Kini, lembar hari membawa kita pada datangnya Idul Fitri. Suatu kemenangan yang diraih kaum muslim yang menunaikan ibadah puasa. Idul Fitri adalah saat kebahagiaan di mana kaum muslim berbagi kebahagiaan dengan bersedekah, menebarkan damai dan kasih sayang dengan saling memaafkan.
Idul Fitri ibarat merupakan momentum kelahiran. Kelahiran bayi, kehidupan masa depan yang cemerlang dan Ramadan adalah bulan pembakaran dosa dan pembersihan jiwa. Kala Idul Fitri, seorang muslim terlahir kembali (reborn) sebagai manusia baru. Ibarat perjalanan kehidupan, Idul Fitri adalah saat di mana manusia melakukan mudikspiritual.
Di penghujung bulan suci Ramadan, kita akan bertakbir, memuja asma Nya. Kita merasa kecil bahkan tidak ada di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan, hadirlah visi batin yang luar biasa di Idul Fitri ini. Yakni, bahwa manusia tidak punya kekuatan lain selain saling memaafkan. Tanpa kekuatan itu, kehidupan bermasyarakat dan manusia akan musnah, dan kekuatan yang demikian adalah percikan Ilahi.
Kata fitri dalam Idul Fitri bermakna “fitrah” atau “asal kejadian”. Setelah ditempa oleh lapar, dahaga, dan latihan kesabaran selama Ramadan, umat Muslim diharapkan kembali menjadi pribadi yang lebih bersih, rendah hati, dan penuh kasih terhadap sesama. Inilah esensi utama dari Idul Fitri: transformasi diri menuju kebaikan yang hakiki.
Idul Fitri juga menjadi momen untuk memperkuat jalinan silaturahmi. Tradisi saling bermaafan dan berkumpul bersama keluarga bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, melainkan simbol penting dari semangat persaudaraan dan kepedulian sosial. Melalui ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, kita diajak untuk membuka hati, melepas ego, dan menyambung kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.
Dan, batin Lebaran telah mengajarkan kepada kita untuk membangun persaudaraan. Inilah kedalaman yang tersembunyi dari Idul Fitri. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri, untuk semua saudara, sahabat dan kerabat dimanapun berada. Mohon Maaf Lahir dan Batin. (*)
Penulis : Anggota Fraksi PDI Perjuangan, DPRD Kota Bogor, Ence Setiawan
