INTELMEDIA – Usia hanya sebatas angka, tapi soal semangat pantang redup dan terus menyala. Setidaknya, demikian yang menjadi spirit para pensiunan Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (Puslittanak) yang dulu berkantor di Jalan Djuanda, Kota Bogor dan kini di Cimanggu.
Sebanyak 30 orang pensiunan Puslittanak menggelar silaturahmi di salah satu rumah makan, di Jalan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Kamis (4/6/2026). Para pensiunan tersebut yang termuda berusia 60 tahun dan tertua 80 tahun. Mereka dari latarbelakang lintas generasi berbeda semasa bekerja di Puslittanak, dimulai dari adminsitrasi hingga peneliti.
Soal cerita suka duka semasa bekerja, penuturan mantan pegawai tersebut, masih lebih banyak sukanya. Pasalnya, semasa menjabat sebagai pegawai, kerap dinas ke luar kota hingga ke luar negeri, dibiayai negara.
“Puslittanak atau Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat adalah lembaga riset di Bogor di bawah Kementerian Pertanian yang mengkaji tanah dan iklim untuk pertanian. Sejarahnya berawal dari laboratorium penelitian tanah pertama di Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1905, yang kini menjadi lokasi Museum Tanah dan Pertanian Bogor,” kata Ketua Paguyuban Pensiunan Puslittanak, Sutejo.
Ditambahkan Wakil Ketua Paguyuban Pensiunan Puslittanak, Haeres, lembaga riset tersebut sejarahnya berawal dari laboratorium penelitian tanah pertama Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1905, yang kini menjadi lokasi Museum Tanah dan Pertanian Bogor.
“Waktunya bersamaan dengan SPMA atau Sekolah Pertanian Menengah Atas, Bogor,” imbuh Hasres.
SPMA Bogor sendiri merupakan institusi pendidikan sejarah pertanian di Bogor yang saat ini telah bertransformasi menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor. SPMA dahulu di Cibalagung, Kota Bogor. Polbangtan Bogor, merupakan sekolah tinggi kedinasan di bawah naungan Kementerian Pertanian.
Penuturannya, Puslittanak berdiri tahun 1905. Dahulu, sejarah penelitian tanah di Indonesia ditandai dengan Laboratorium voor Agrogeologie en Grond Onderzoek. Kemudian, pada 1910, sistem klasifikasi tanah pertama di Indonesia disusun oleh E.C.J. Mohr berdasarkan prinsip genesis dan warna tanah.
Kemudian, era Kemerdekaan, lembaga ini mengalami beberapa kali perubahan nama hingga menjadi Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (Puslittanak). Lembaga ini telah menghasilkan berbagai publikasi penting, seperti model pendugaan kawasan rawan longsor (metode Puslittanak 2004) dan pedoman klasifikasi tanah di Indonesia.
“Ada kesan menarik selama bekerja yakni kita bisa keliling Indonesia, gratis, dibiayai kantor, kaitannya dengan penelitian tanah. Pada tahun 1985, kala itu ada program pembebasan lahan untuk transmigrasi di seluruh Indonesia, di luar Pulau Jawa,” kenangnya.
Dilanjutkan Sekretaris Pensiunan Puslittanak, Santoso yang kini berusia 71 tahun, setiap tahunnya, komunitasnya selalu menggelar pertemuan.
“Karena usia, setiap tahun kerap ada kabar duka, mulai sakit hingga meninggal dunia. Kami, bergotorong royong memberikan bantuan tali kasih untuk para anggota yang sakit atau meninggal dunia,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Peneliti Dr Achmad Hidayat yang mendedikasikan diri di Puslittanak selama 15 tahun dan kini sudah berusia 80 tahun, menyampaikan, banyak kenangan indah semasa bekerja.
“Dulu saya ketua kelompok peneliti. S1 saya di Unpad, S2 di Belgia, dan S3 di IPB. Selama di Puslittanak, kita menjadi ‘Turis Abidin’ atau yang kepanjangannya turis atas biaya dinas. Karena, saya keliling Indonesia, juga ke luar negeri atas biaya dinas, yang diteliiti tanah. Untuk pertanian, jalan hingga kebun,” tukasnya sembari tersenyum.
Sementara, A Bunjamin menambahkan, merasa sukacita bisa berkumpul kembali bersama.
“Senang, dan sukacita. Semoga semua sehat, dan selalu semangat. Gelaran ini merupakan kerjasama paguyuban pensiunan puslittanak dengan Forum Pengawal Sejarah Kebangsaan,” tuntas Bunjamin yang juga Pelaksana Museum Perjuangan Bogor. (Nesto)
