Waket DPRD Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata, SE, MM
PASCA diproklamirkan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, ancamanhi penjajah untuk kembali menjajah masih terus berlanjut. Perjuangan para pejuang kemerdekaan RI masih belum berhenti dengan mempetaruhkan jiwa, raganya.
Rentang waktu 1945–1949 dipenuhi peristiwa bersejarah setelah Proklamasi Kemerdekaan RI yang menentukan apakah bangsa ini bisa bertahan atau tidak. Dihimpun dari beberapa sumber, kaum muda kala itu juga kelompok sosial, dan masyarakat di banyak daerah bergerak cepat mengamankan kemerdekaan.
Kantor pemerintahan peninggalan pendudukan Belanda dan Jepang diambil alih. Para pejuang bersatu menjaga kedaulatan. Inilah fase awal dari peristiwa bersejarah setelah Proklamasi Kemerdekaan RI yang menunjukkan tekad bangsa.
Tercatat, 7 peristiwa bersejarah setelah Proklamasi Kemerdekaan RI yakni pembentukan Pemerintahan dan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945, PPKI menyelenggarakan rapat penting yang menghasilkan UUD 1945 dan memilih Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Momen ini yang menandai terbentuknya dasar negara dan pemerintahan pertama Indonesia.
Seterusnya, pertempuran 5 hari di Semarang pada 15 – 19 Oktober 1945. Kala itu, Rakyat Semarang mengorbankan perlawanan mengusir tentara Jepang yang menolak menyerah meskipun proklamasi sudah diumumkan. Ketegangan dipicu beredar kabar bahwa pasokan air di daerah Candi telah diracuni oleh pasukan Jepang. Kemudian dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Pusat Rumah Sakit Rakyat (RS Purasara), berangkat menuju lokasi. Namun, di tengah perjalanan, ia ditembak dan gugur. Kematian dr. Kariadi memicu kemarahan penduduk Semarang, yang kemudian bangkit melawan pasukan Jepang.
Selanjutnya, pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Salah satu pertempuran terbesar menghancurkan bayangan penjajahan. Dipimpin oleh Bung Tomo, rakyat Surabaya berjuang mati-matian. Hari ini dijadikan Hari Pahlawan nasional.
Selain itu juga peristiwa Bandung Lautan Api pada Maret 1946, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, hingga Perjanjian Linggarjati dan Renville serta Konferensi Meja Bundar dan Pengakuan Kedaulatan RI pada 27 Desember 1949 yang menjadi momen menandai berakhirnya penjajahan.
Hari Pahlawan
Setiap tahunnya pada 10 November, diperingati Hari Pahlawan. 10 November juga dikenal sebagai Pertempuran Surabaya dan tercatat sebagai salah satu peristiwa pertempuran besar pasca kemerdekaan.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pada pertengahan September, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan mereka berada di Surabaya pada 25 September 1945.
Tentara Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang bersama tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Kehadiran mereka ingin mengembalikan Indonesia kepada pemerintahan Belanda sebagai negara jajahan.
Para pejuang pun lakukan perlawanan dimulai pada 19 September 1945. Diawali sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera Belanda di sebelah utara di Hotel Yamato, Jalan Tunjungan Nomor 65, Surabaya, sebagai sikap menebar ancaman kepada rakyat Surabaya.
Para pejuang pun menyambut dengan angkat senjata karena menganggap Belanda menghina kemerdekaan Indonesia dan melecehkan bendera Merah Putih. Pada 27 Oktober 1945, perwakilan Indonesia berunding dengan pihak Belanda dan berakhir meruncing karena Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan.
Ploegman pun tewas dicekik pejuang Indonesia Bernama Sidik. Hotel Yamato ricuh. Warga ingin masuk ke hotel, tetapi Hariyono dan Koesno Wibowo berhasil merobek bagian biru bendera Belanda sehingga bendera menjadi Merah Putih.
Singkatnya, pada 29 Oktober, pihak Indonesia dan Inggris sepakat menandatangani gencatan senjata. Tapi, esoknya kembali terjadi bentrok antara penjajah dengan pejuang RI yang menyebabkan Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris, tewas tertembak serta mobil yang ditumpanginya diledakan. Militer Inggris marah.
Melalui Mayor Jenderal Robert Mansergh, pengganti Mallaby para pejuang RI diminta meletakkan senjata dan menyerahkan diri hingga batas waktu pada pukul 06.00, 10 November 1945. Ultimatum itu disambut perlawanan oleh para tokoh perjuangan penggerak diantaranya Sutomo, K.H. Hasyim Asyari, dan Wahab Hasbullah dan meletus pertempuran 10 November. Perang terjadi. Pertempuran tersebut menewaskan ribuan korban.
Penetapan Hari Pahlawan
Atas jasa besar para pejuang, pemerintah kemudian menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur, yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno.
Penetapan ini dimaksudkan untuk mengingatkan generasi penerus akan besarnya arti perjuangan dan pengorbanan dalam meraih kemerdekaan. Kini, Hari Pahlawan tidak hanya diperingati dengan upacara, tetapi juga menjadi momen refleksi nasional.
Memaknai Hari Pahlawan
Kisah perjuangan para pejuang Indonesia terdahulu dimulai dari sebelum dan pasca kemerdekaan tentu patut ditauladani untuk kaum muda saat ini. Ada kerelaan berkoban jiwa dan raga, meninggalkan keluarga, mengorbankan harta benda miliknya, demi mengusir para penjajah.
Ada semangat berapi-api seperti kejujuran, kegigihan, pantang menyerah, dan melakukan kewajiban kebangsaan yang menjadi panggilan hati bahwa negeri Indonesia pantang dijajah. Dan, sepatutnya, generasi saat ini pantang melupakan jasa para pejuang terdahulu. Seperti yang diingatkan Bung Karno, ‘Jas Merah’ atau Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Kekinian, adalah kewajiban kita memakani perjuangan dengan spirit seperti pejuang pendahulu pada kehidupan sehari-hari. Seperti mempertahankan kemerdekaan, meraih prestasi di bidang yang diminati, menolong sesama dengan semangat bersaudara.
Mari kita ajak siapapun serta generasi penerus bangsa saat ini, untuk selalu mencontoh sikap para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Karena, perjuangan yang dilakukan para pahlawan terdahulu tidak mementingkan kelompok atau golongan tertentu, tetapi lebih mengutamakan kebersamaan dan masa depan Indonesia.
Bangsa Indonesia ini, saat ini, sedang membutuhkan banyak pahlawan. Pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Penulis : Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, H Dadang Iskandar Danubrata, SE, MM
