INTELMEDIA – Meski diembargo oleh negara barat terutama Amerika Serikat setelah Revolusi tahun 1979, Iran ternyata tetap perkasa. Hal itu dibuktikan, perlawanan bombasti meski dikeroyok Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, Iran telah sampaikan pesan tak tersirat, Amerika dan Israel seolah telah salah pilih lawan. Demikian disampaikan Ketua Pengawal Sejarah Kebangsaan, Bunjamin.
“Fakta menerangkan, sanksi kepada Iran termasuk pembekuan aset, embargo perdagangan terutama minya), hingga embargo senjata, dengan tujuan menekan program nuklir dan militer mereka, yang berdampak signifikan pada ekonomi dan kehidupan warga sipil Iran. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Iran melambat tajam menjadi sekitar 0,6-3,7% pada 2024-2025 dari sebelumnya tinggi pada 2021-2023. Tapi, serangan Amerika dan Israel, menuai balasan bombastis Iran yang membuat kedua tersebut kerepotan,” kata Bunjamin atau yang akrab disapa Ben, Senin (30/3/2026).
Pria yang kesehariannya sebagai Pengelola Museum Perjuangan Bogor ini menambahkan, Iran setidaknya sudah menunjukan sebagai negara yang tak mudah ditaklukan saat akan dijajah Amerika dan Israel yang mengincar sumber daya alam minyak.
“Iran, bukan Venezuela. Saat Amerika pernah menundukan Venezuela dengan menculik kepala negaranya, saat Amerika juga mengembargo Kuba. Tapi, Iran yang menolak kedaulatan negaranya didikte, dijajah, diinvasi menujukan perlawanan sampai titik darah penghabisan. Meski Ali Khamenei dan keluarganya dihabisi, juga para petinggi Iran, tapi perlawanan tak surut dilakukan,” ucapnya.
Dia berujar, Iran memiliki latarbelakang sejarah kejayaan di masa lalu semasa Kekaisaran Persia kuno, yang didirikan oleh Cyrus Agung pada tahun 550 SM.
“Cyrus Agung merupakan salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah dan dikenal atas pencapaian budaya yang kaya serta sistem pemerintahan yang maju. Bangsa Persia membangun peradaban yang khas, lengkap dengan arsitektur megah, seni, sastra, serta kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Kekaisaran Akhemeniyah, Parthia, dan Sassania termasuk di antara kekaisaran Persia paling berpengaruh yang membentuk budaya dan identitas Iran,”tukasnya
Dia melanjutkan, banyak ilmuwan Iran yang Namanya popular mendunia. Diantaranya, Al-Khawarizmi seorang Matematikawan juga penemu algoritma.
“Kemudian, Ibnu Sina atau bapak kedokteran modern hingga Al-Razi (Razes) ahli kimia dan kedokteran. Beberapa ilmuwan saat ini, juga banyak dihilangkan diduga oleh negara lawan. Diantaranya Mohsen Fakhrizadeh, ilmuwan utama yang tewas pada tahun 2020, sering dikaitkan dengan program nuklir Iran, Majid Shahriari Ahli fisika nuklir yang tewas dalam pemboman tahun 2010 hingga Mostafa Ahmadi Roshan Ilmuwan nuklir yang tewas pada 2012,” tuturnya.
Sikap Iran, sebut Ben, sudah senafas dengan Dasasila Bandung pada tahun 1955 merupakan prinsip hasil Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang menekankan perdamaian, kedaulatan, dan non-intervensi.
“Iran, oleh Amerika dan Israel dituduh negara produksi nuklir. Tuduhan tanpa bukti dan sepihak. Yang pasti, Iran, bukan negara penjajah. Dia bereaksi karena mempertahankan kedaulatan negaranya. Karena, menolak dijajah. Karena, Amerika dan Israel tidak menghormati kedaulatan dan integritas territorial,” tuntasnya. (Nesto)
