Oleh: Imam Maksum Amrullah
(Wakil Ketua Bidang Keagamaan PD AMPG DKI Jakarta)
INTELMEDIA – Momentum malam Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan sejarah turunnya wahyu, bukan juga sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat turunnya Blueprint dan Grand Design peradaban. Bagi kader Angkatan Muda Partai Golkar, ini merupakan simbol ‘Iqra’ (Bacalah) – sebuah peringatan untuk membaca zaman, membaca keresahan rakyat, dan menuliskan solusinya dalam lembaran kerja nyata.
Di tengah dinamika perpolitikan di kehidupan bermasyarakat yang bergerak secepat algoritma, ini merupakan terjemahan dari semangat turunnya wahyu pertama sebagai simbol transformasi dari gelap menuju cahaya – sebuah transisi dari ketidaktahuan menuju peradaban berbasis ilmu dan karya-kekaryaan. Dalam kesempatan ini, penulis akan mengupas tafsir organisatoris dan spirit momentum malam Nuzulul Qur’an dari beberapa referensi karya ilmiah, salah satu di antaranya termasuk buku ‘Karya Muda’ yang ditulis oleh M. Fauzan Irvan, selaku Ketua AMPG DKI Jakarta.
Bagi saya buku ini bukan sekadar sebagai literatur, melainkan kompas organisatoris para kader AMPG khususnya di DKI Jakarta, agar menjadi spirit dan ruh baru gerakan angkatan muda untuk menjemput kemenangan Partai Golkar di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia yang berbasis nilai, karya dan dengan cara-cara yang cerdas serta bermatabat.
Politik Karya: Mentransformasi Wacana Menjadi Ibadah Sosial
Jika Al-Qur’an diturunkan sebagai Hudan Lin-Nas (Petunjuk bagi manusia), maka bagi para kader Partai Golkar terkhusus AMPG bahwa politik haruslah dijadikan sebagai sarana Khidmah lin-Nas (Pelayanan bagi manusia). Menyoal politik karya merupakan antitesis dari politik janji, kami percaya bahwa dengan pengabdian terbaik bagi seorang pemuda adalah saat ide-ide briliannya mewujud menjadi kebijakan yang memudahkan hidup masyarakat.
Politik karya bukanlah sekadar jargon. Secara filosofis ia berakar pada doktrin kekaryaan yang menjadi DNA Partai Golkar. Namun, jika kita bedah dalam perspektif keindonesiaan yang lebih religius, bahwa karya adalah manifestasi dari Iman. Dalam Islam, dikenal konsep Amal Jariyah—perbuatan yang manfaatnya terus mengalir. Inilah yang kita sebut sebagai Ibadah Sosial. Saat seorang politisi muda merumuskan kebijakan yang memudahkan akses pendidikan atau menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan, ia tidak sedang sekadar mencari suara; ia sedang menanam benih kebaikan yang dampaknya melintasi waktu.
Dalam buku ‘Karya Muda – Strategi AMPG DKI Menuju Kemenangan Partai Golkar’, yang ditulis oleh M. Fauzan Irvan, disebutkan bahwa politik karya ialah politik yang diukur dari dampaknya, bukan dari seberapa ramai dibicarakan. Bagi anak muda, berbicara tentang kerja nyata, keberpihakan pada masyarakat, dan konsistensi dalam berbuat merupakan tawaran ruang yang lebih jujur dan relevan. Seyogyanya, anak muda tidak dituntut untuk langsung menjadi elit, tetapi diajak untuk berkontribusi melalui program: aksi sosial, pemberdayaan komunitas, dan kepemimpinan kolektif.
Ketika anak muda kembali pada politik karya, politik tidak lagi terasa asing. Politik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari: membantu warga, mengorganisir kegiatan sosial, menciptakan ruang dialog, dan menghadirkan solusi atas persoalan nyata. Berikut bentuk politik yang membumi, yang tidak menggurui, serta mampu membangun kepercayaan publik secara perlahan namun berkelanjutan.
Bagi anak muda hari ini, politik dianggap hanya sebagai panggung elite, terjebak dalam intrik, gimik dan minim keteladanan. Namun, melalui sentuhan kekaryaan pemuda, kita kembali diingatkan bahwa politik adalah jalan pengabdian. Sebagaimana perintah Tuhan dalam firman-Nya: Iqra (Bacalah!), kita diwajibkan membaca keresahan kehidupan bermasyarakat – mulai dari sulitnya hunian terjangkau, transportasi, lapangan pekerjaan, hingga akses permodalan bagi UMKM. Politik karya adalah jawaban nyata, bukan sekedar janji di baliho. Ini adalah bentuk ibadah sosial yang paling relevan saat ini.
Hal ini menegaskan satu hal penting, bahwa karya menurut perspektif pribadi bukan soal pencapaian pribadi, melainkan kotribusi kolektif. Ini menjadi penting dipahami generasi muda yang hidup di era individualisme dan personal branding. Bagi generasi muda Golkar, karya bukan hanya alat pengabdian, tetapi sumber legitimasi politik paling otentik. Dan karya adalah bahasa kepercayaan yang paling mudah dipahami publik. Ia melampaui generasi, media, dan zaman. Dan kepercayaan itu hanya bisa dibangun melalui karya nyata yang konsisten, jujur, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Nilai-Nilai Dasar Partai Golkar (NDPG): Tauhid Sosial Sebagai Akar Nilai Kesalehan dan Kebangsaan.
Salah satu dari spirit Nuzulul Qur’an membawa nilai Al-Furqan (Pembeda). Nilai-nilai dasar Partai Golkar ialah adaptabilitas dan integritas. Dibawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia, pemuda Golkar harus menjadi pembeda di tengah kebisingan politik – menjadi standar moral sekaligus motor kemajuan bangsa. Menjadi cerdas dalam bernarasi, namun bersih dalam eksekusi. Karenanya, nilai dasar kita ialah menjadi solusi, bukan beban. Mengedepankan integritas di atas popularitas sesaat.
Dalam Islam, tauhid sosial memiliki nilai kesalehan dan berkebangsaan. NDPG menekankan pada ranah moralitas, integritas dan etika berpolitik, sejalan dengan semangat nafas Tauhid (Keislaman) dan semangat Pancasila (Keindonesiaan) yang Rahmatan lil ‘Alamin dalam bingkai Kebhinekaan Tunggal Ika. Dimana kader Golkar haruslah bergerak menjadi jembatan aspirasi masyarakat, bukan karena haus kuasa, melainkan karena tanggung jawab kekhalifahan untuk memakmurkan bumi (Indonesia).
Dunia saat ini sangatlah disruptif, kita tidak bisa lagi memakai kacamata lama dalam hal berfikir, bergerak, dan berjejaring. Namun, di tengah perubahan itu, ada nilai-nilai yang justru semakin penting untuk di pegang. Bagi organisasi kepemudaan partai politik Golkar, terutama AMPG, nilai loyalitas, karya, dan solidaritas bukan sekadar jargon organisasi, tetapi fondasi moral yang harus dimaknai ulang agar tetap relevan di era sekarang. Loyalitas hari ini sering disalahpahami. Banyak yang menganggap loyalitas berarti patuh tanpa berpikir, atau setia tanpa kritik. Padahal, loyalitas modern justru menuntut kesadaran.
Loyalitas dan karya yang tumbuh dari kesadaran jauh lebih kuat dibanding loyalitas yang lahir dari keterpaksaan. Hal itu juga bentuk dari amanah untuk menegakkan al-Adl wa al-ihsan, itu adalah mandat dari sila kelima Pancasila. Dalam spirit Nuzulul Qur’an, kader Golkar diinstruksikan untuk menjadi pembela mereka yang lemah (mustadh’afin), memastikan bahwa pembangunan ekonomi dibawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia menyentuh hingga akar rumput terkecil.
Di tengah iklim politik yang semakin terpolarisasi, nilai solidaritas di tengah budaya individualisme dan kompetisi yang kuat, sering terasa langka. Padahal, tanpa solidaritas, gerakan pemuda hanya akan menjadi kumpulan individu yang berjalan sendiri-sendiri. Dalam tradisi keislaman yang mengenal konsep Syura (musyawarah), dan solidaritas dalam tradisi keindonesiaan bisa disebut sebagai Gotong Royong. NDPG menyatukan keduanya dalam prinsip demokrasi yang santun. Partai Golkar tidak mengenal oposisi yang destruktif, melainkan kritik yang membangun demi kemaslahatan publik (Maslahah Mursalah). Dan spirit Nuzulul Qur’an mengajarkan kita untuk berdialog dengan hikmah dan Mauizhah Hasanah (Nasihat yang baik).
Dalam tradisinya, partai Golkar selalu mengambil sikap sebagai partai tengah. Hal itu merupakan tradisi pemikiran politik yang matang. Mengutip pernyataan senior Golkar, Erwin Aksa, ideologi tengah atau middle way yang disikapi oleh partai Golkar ini bukan berarti tidak bersikap dan mengambil jarak dari ide-ide keadilan sosial dan partisipasi publik yang signifikan. Melainkan bertujuan membawa dan memasukkan ide dan konsep keadilan sosial serta pelembagaan pranata partisipasi publik, terutama membawa anak muda tentunya ke arah arus utama.
Dalam terminologi Islam, tradisi sikap Golkar sebagai partai tengah bisa disebut sebagai Ummatan Wasathan – Umat yang moderat. Menjaga harmoni di tengah keberagaman suku dan agama, juga menolak ekstremisme kanan maupun kiri. Seperti Al-Qur’an yang menjadi penengah bagi perselisihan manusia, NDPG memposisikan Golkar sebagai rumah besar bagi semua golongan, tempat di mana identitas keislaman dan keindonesiaan melebur tanpa harus saling meniadakan.
Terakhir, menghayati NDPG melalui spirit Nuzulul Qur’an berarti menyadari bahwa berpolitik adalah bagian dari menjalankan amanah Tuhan untuk menjaga Indonesia. Membumikan Wahyu – Memenangkan Hati Rakyat, kita tidak hanya sedang mencari suara, kita pun sedang menjemput keberkahan. Dengan akselerasi karya sebagai manifestasi Iman dalam perbuatan merupakan esensi doktrin dari karya-kekaryaan. Dibawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia, NDPG ditransformasikan menjadi kerja nyata yang terukur. Dan malam Nuzulul Qur’an adalah awal dari kerja besar Rasulullah SAW dalam membangun peradaban Madinah; bagi AMPG dan Golkar, ini adalah awal dari kerja besar membangun Indonesia yang maju dan bermartabat.
Penulis merupakan alumni Program Studi Tarjamah/Penerjemah, konsentrasi Linguistik – Kesusastraan Arab, Fakultas Adab & Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
