INTELMEDIA – Di tengah geliat pembangunan yang kerap diukur dengan beton dan aspal, ada denyut lain yang tak kalah penting, yaitu pembangunan jiwa. Di Kp Pasir Pogor Rt.09/02, Desa Kecamatan Cicantayan, Kubupaten Sukabumi, harapan itu tumbuh perlahan dari sebuah majlis taklim sederhana bernama Sirojul Mustofa. Bukan gedung megah yang berdiri, melainkan semangat warga yang setia menumpuk bata demi bata, meski waktu berjalan lebih cepat daripada kemampuan mereka mengumpulkan dana.
Sudah 3 tahun pembangunan majlis taklim ini dimulai. Namun hingga kini, baru sebatas pondasi, dinding bata merah, serta kusen yang berdiri sebagai saksi keteguhan niat. Semua dibangun dari swadaya masyarakat, dari tangan-tangan yang mungkin tak berlebih harta, tetapi kaya akan harapan untuk masa depan anak cucu mereka.
Di balik perjuangan itu, ada sosok pemuda bernama Muhammad Ardianto Ismail, yang akrab disapa Aba. Dengan sorot mata yang menyimpan tekad, ia memikul mimpi besar: menghadirkan generasi muda yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman. Ia menyadari, arus modernisasi tak selalu ramah. Tanpa benteng akidah yang kokoh, generasi muda bisa terseret jauh dari jalan yang diridhai Allah.
Aba tidak sedang melawan zaman. Ia hanya ingin memastikan bahwa kemajuan tidak memutus hubungan manusia dengan Tuhannya. Baginya, majlis taklim bukan sekadar bangunan fisik, tetapi benteng moral, tempat anak-anak belajar mengenal arah hidup sebelum dunia menawarkan terlalu banyak jalan yang menyesatkan.
Dalam keterbatasan, doa menjadi bahan bakar utama. Aba terus berharap, apa yang ia rintis bersama masyarakat bisa menjadi amal jariyah yang tak terputus. Sebab ia percaya, setiap huruf yang diajarkan di majlis taklim di atas lahan seluas 100M² dengan ukuran bangunan 6×7 meter tersebut akan menjadi cahaya, bahkan ketika kelak ia telah tiada.
Momen Idul Fitri 1447 H membawa secercah harapan baru karena informasi mengenai adanya dana umat yang dapat diajukan melalui Baznas Kabupaten Sukabumi menjadi angin segar bagi mereka. Sebuah peluang yang bukan hanya tentang bantuan finansial, tetapi juga tentang hadirnya negara dalam membina umat.
“Kami sedang menyusun proposal untuk dilayangkan ke Baznas Kabupaten Sukabumi. Semoga pemerintah melalui Baznas dapat membantu membangun umat sebagai sumber daya manusia di wilayah Desa Cicantayan ini,” ungkap Aba, saat ditemui di sebuah rumah sederhana yang selama ini difungsikan sebagai kobong sementara, Senin (23/3/2026).
Rencana pembangunan ke depan pun telah disusun. Pondok tersebut akan dibangun dua lantai dengan enam kamar. Lantai pertama diperuntukkan bagi santri (laki-laki), sementara lantai kedua untuk majlis ruang belajar santri. Sebuah konsep sederhana, namun sarat visi: mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak.
Dalam ajaran Islam, membantu pembangunan sarana pendidikan agama bukanlah sekadar kebaikan, melainkan investasi akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Majlis taklim seperti Sirojul Mustofa adalah pertemuan dari ketiganya.
Al-Qur’an pun menegaskan, “Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir terdapat seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261). Setiap rupiah yang disisihkan untuk pembangunan ini sejatinya bukan berkurang, melainkan berlipat ganda dalam cara Allah dan hanya Allah yang mampu menghitungnya.
Harapan terbangunnya majlis taklim yang masih membutuhkan dana sekitar 300 juta rupiah itu, kini mengetuk pintu para pemangku kebijakan termasuk Ketua Baznas Kabupaten Sukabumi, anggota dewan, serta para pengusaha.
“Saya yakin, di tangan mereka ada kemampuan untuk mempercepat terwujudnya mimpi ini. Bukan sekadar membantu pembangunan fisik, tetapi ikut menanam fondasi peradaban masa depan generasi yang lebih kokoh dan tidak mudah terpengaruh oleh budaya luar yang semakin tidak terkendali,” pungkas Aba.
Majlis taklim Sirojul Mustofa mungkin belum berdiri megah hari ini. Namun di atas pondasi yang telah ada, tersimpan doa-doa panjang, keringat masyarakat, dan harapan generasi yang belum sempat bersuara. Barangkali, inilah saatnya sebagian rezeki yang dititipkan Allah kembali diserahkan di jalan-Nya, agar kelak menjadi cahaya yang menerangi, bukan hanya dunia, tetapi juga kehidupan setelahnya. (DidiS)
