INTELMEDIA – Perguruan silat aliran Cimande, Walet Putih, kembali mengepakkan sayapnya di Kabupaten Bogor. Setelah sempat mengalami kevakuman pasca wafatnya sang pendiri, H. Abdul Mukti, pada tahun 1994, kini warisan budaya tersebut dihidupkan kembali oleh pasangan suami istri, Pak Sarta dan Bu Siti Nurlela selaku ahli waris dengan padepokan di Desa Petir Jadipa Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor
Kebangkitan Walet Putih bukan sekadar menghidupkan kembali sebuah perguruan silat, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam melestarikan nilai-nilai luhur budaya Sunda yang mulai tergerus zaman. Dengan semangat baru, Walet Putih hadir sebagai ruang pembinaan karakter sekaligus benteng moral generasi muda.
Langkah awal kebangkitan ini dimulai dari lingkungan pendidikan. Walet Putih aktif mengisi kegiatan ekstrakurikuler bagi kelas 2 hingga kelas 5 di SDN Cihideung Ilir 01, Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, sebuah upaya strategis untuk menanamkan nilai-nilai pencak silat sejak usia dini. Anak-anak diperkenalkan tidak hanya pada teknik bela diri, tetapi juga pada filosofi kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Menurut Pak Sarta, pencak silat bukan semata-mata soal fisik dan kemampuan bertarung. Lebih dari itu, silat adalah sarana membentuk kepribadian yang kuat, santun, dan berakhlak. “Kami ingin anak-anak tumbuh dengan bekal mental yang baik, bukan hanya kuat secara fisik, tapi juga bijak dalam bersikap,” ujarnya.
Walet Putih memiliki tujuan yang jelas dalam setiap langkah pembinaannya. Pertama, membekali peserta didik dengan kemampuan menjaga diri sebagai bentuk perlindungan pribadi di tengah dinamika kehidupan. Kedua, mempererat tali silaturahmi antar sesama anggota dan masyarakat luas.
Selain itu, perguruan ini juga berkomitmen memperkuat identitas budaya Sunda yang menjadi akar dari aliran Cimande. Melalui latihan rutin dan kegiatan bersama, nilai-nilai kearifan lokal terus ditanamkan agar tidak hilang ditelan modernisasi.
Tak hanya itu, Walet Putih juga berperan dalam melestarikan pusaka leluhur, baik dalam bentuk gerakan silat maupun filosofi yang diwariskan turun-temurun. Setiap jurus yang diajarkan mengandung makna dan sejarah yang menjadi bagian dari jati diri bangsa.
Yang tak kalah penting, perguruan ini menanamkan sikap rendah hati kepada setiap anggotanya. Walet Putih menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan untuk kesombongan, melainkan untuk menjaga keharmonisan. Sifat arogan dan radikal menjadi hal yang dihindari dalam setiap proses pembinaan.
“Pada dasarnya, Walet Putih memaknai pencak silat sebagai ‘Pencak’ yang berarti panca kaki dan ‘Silat’ sebagai silaturahmi. Jadi, silat itu bukan sekadar bela diri, tapi juga mempererat hubungan antar manusia,” ungkap Pak Sarta saat ditemui di kediamannya, Selasa (31/3/2026).
Dengan semangat kebangkitan ini, Walet Putih optimistis dapat mencetak generasi yang tangguh, berbudaya, dan berakhlak mulia. Kehadirannya di tengah masyarakat diharapkan menjadi oase yang menyegarkan, sekaligus benteng budaya di tengah arus globalisasi yang kian deras. (SR/Red)
