SELAMAT Natal dan Tahun Baru, saudaraku Umat Kristiani. Semoga kehangatan Natal memenuhi hati kita dengan penuh suka cita, damai, dan sejahtera. Momen Natal, juga merupakan perayaan keberagaman. Sebagaimana pesan moral Pancasila yakni komitmen keagamaan, kebhinekaan, kebangsaan dan ke-Indonesia-an.
Indonesia negara besar yang memiliki 714 suku dan lebih dari 1.300 bahasa daerah, merupakan negara majemuk dengan keragaman. Kebersamaan dan sikap saling hormat menghormati itu juga yang membuat kita bersama bisa merasa nyaman ber Indonesia dengan menjaga toleransi, menjaga persatuan di tengah kebhinekaan. Sungguh, kita patut bersyukur memiliki Pancasila.
Tentunya, semangat inilah yang harus terus dirawat. Suatu spirit bersikap moderat dalam beragama, dan menempatkan kepentingan kebangsaan juga sebagai bagian dari keimanan kita. Di tengah mayoritas penduduk Islam, ada suatu keindahan yang terus hadir yakni rasa bersaudara. Hal ini meruapakan keberhasilan masyarakat menunjukkan kepada dunia, indahnya toleransi.
Toleransi di Indonesia sudah hadir ratusan tahun lalu. Dan, ternyata toleransi juga bagia dari budaya Nusantara yang sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Dari informasi berbagai sumber, salah satu contoh yang sering dikutip adalah kerajaan Mataram Kuno, terutama pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan (abad ke-8 M) dan Raja Samaratungga (abad ke-9 M).
Pada masa itu, kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu pusat peradaban Hindu-Buddha di Jawa Tengah. Mereka mempraktikkan beragam kepercayaan dan agama, termasuk agama Hindu dan Buddha, serta kepercayaan tradisional animisme dan dinamisme yang sudah ada sejak sebelum kedatangan agama-agama.
Perpaduan beragam kepercayaan juga terlihat dalam relief-relief candi seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, yang menggambarkan pengaruh Buddha dan Hindu secara bersamaan. Begitu juga dibuktikan dari prasasti-prasasti seperti Prasasti Sojomerto dan Prasasti Kalasan yang menunjukkan toleransi terhadap berbagai kepercayaan dan agama.
Pada Prasasti Sojomerto, menggambarkan seorang pemimpin yang mempromosikan toleransi antar berbagai aliran kepercayaan. Kesimpulannya, sikap toleransi ini telah berkembang pada masa kerajaan Mataram Kuno di Indonesia, saat beragam kepercayaan dan agama bisa hidup berdampingan.
Keragaman dan toleransi di Indonesia tentunya tak kalah dengan negara maju dengan toleransi tinggi di dunia seperti Kanada, Belanda, Swedia, Norwegia, Islandia, Denmark, Swiss hingga Australia. Dan, ini membanggakan.
Bagaimana di Bogor? Tentunya, saling menguatkan merawat keragaman juga akan tumbuh subur dan terus terjaga. Seperti Bogor yang memiliki filosofi Tepas Salapan Lawang Dasakerta, yang berarti Teras Sembilan Pintu Desakerta sebagai simbol sembilan pintu di Tugu Kujang.
Ada pesan utama Sunda yakni Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh (saling mengasihi, mengajari, dan mengasuh), serta motto “Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampereun Jaga” (apa yang dinikmati hari ini adalah warisan masa lalu, dan apa yang dilakukan hari ini untuk masa depan)
Pesan moral tersebut, setiap kita diingatkan menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian, persahabatan, keindahan, kesatuan, kesantunan, ketertiban, kenyamanan, keramahan, dan keselamatan. Dan, Kota Bogor merupakan kota kerukunan antarumat beragama selalu terbuka lebar, dan mencerminkan semangat kebersamaan dalam keberagaman.
Kaum muda juga perlu bertanggung jawab menerapkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Karena, toleransi itu penting agar Bhinneka Tunggal Ika bisa tetap kokoh di Indonesia. Selamat Natal dan Tahun Baru! Salam.
(Penulis : Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, H Dadang Iskandar danubrata, SE, MM)
