Para penggiat aksi sosial berbagai makanan kemasan Pengawal Sejarah Kebangsaan
INTELMEDIA – Organisasi Pengawal Sejarah Kebangsaan yang dikomandani Bunjamin kembali gelar aksi sosial. Kali ini, kegiatan dihelat di Museum Perjuangan, Jalan Merdekat, Kota Bogor, pada Sabtu (27/6/2026).
Dihadiri perwakilan tokoh budayawan Ki Lugaya, Dede Nurohman dan Ki Candra, Pengawal Sejarah Kebangsaan mengawali kegiatan dengan pembagian 200 makanan kemasan gratis, serta santunan kepada puluhan anak yatim.
“Kegiatan ini, sebagai ungkapan ikut merayakan Hari Jadi Bogor ke-544. Dan, pembagian santunan anak yatim ini merupakan puncak dari kegiatan Pengawal Sejarah Kebangsaan,” kata Bunjamin atau yang akrab dipanggil Ben.
Sebelumnya, organisasi yang dipimpinnya juga melakukan beragam kegiatan diantaranya seperti Jumat Berkah dengan pembagian makanan kemasan siap saji hingga edukasi sejarah ke masyarakat di lingkungan Kota Bogor.
“Yang melatarbelakangi kegiatan ini karena rasa cinta kami kepada Bogor, juga semangat kami untuk saling menguatkan pada sesama. Serta, untuk membangun semangat kebersamaan,” ucap Ben.

Para pengurus Pengawal Sejarah Kebangsaan mengenakan kostum seragam abu-abu tersebut membagikan makanan kemasan bermenu ayam goreng, kentang, tahu, dan telur tersebut kepada pejalan kaki, pengendara bermotor, pengemudi angkutan kota serta ojek online di lingkungan Museum Perjuangan.
Diantaranya ada para pedagang kaki lima hingga pengamen yang diundang ke halaman museum. Kegiatan pun dilanjutkan dengan santunan kepada 20 anak yatim dari warga sekitar. Selanjutnya, kegiatan acara ditutup dengan makan nasi tumpeng bersama.
“Terimakasih kepada bapak-bapak yang sudah mau berbagi dan mengajak makan bersama. Semoga banyak rejeki, dan sehat selalu,” ucap salah seorang pengamen.
Sebagai informasi, Bunjamin selaku Ketua Pengawal Sejarah Kebangsaan, juga merupaka pelaksana harian Museum Perjuangan Bogor. Dia menggagas organisasi tersebut untuk mengajak publik mencintai sejarah karena merupakan cermin kehidupan.
Menurutnya, melalui sejarah, siapapun bisa belajar perjuangan para pendahulu. Mencintai sejarah, juga memberi manfaat konkret memetik pelajaran hidup dan moral dari peristiwa masa lalu serta membentuk identitas diri. (Nesto)
