INTELMEDIA – Nama lengkapnya, Mintarsih Ela Ningtias. Ia acap dipanggil Tacie. Wanita kelahiran Bogor, 12 September 1984, ini dikenali sebagai sosok wanita yang energik dan peka pada persoalan sosial masyarakat. Tiada hari tanpa cerita dan tiada hari tanpa menangis dan berjuang bersama untuk sesama.
Baginya, waktu luang akan lebih baik dimanfaatkan menjadi nilai tambah membantu warga. Prinsip itu bukan sekedar basa-basi. Sudah lebih dari 10 tahun, Tacie kerap menyibukan diri membantu warga mulai dari pendampingan sakit, pengurusan BPJS PBI untuk warga pra Sejahtera, mengurus ijazah siswa gakin hingga persoalan sosial masyarakat lainnya. Demikian moto Tacie saat diwawancarai media online ini.
“Karena, sudah jadi kebiasaan jadi setiap waktu luang saya menfaatkan untuk lakukan pendampingan warga di Ranggamakar, bahkan di kelurahan atau kecamatan berbeda. Tidak ada tujuan apapun. Cuma saya merasa bahagia saja jika bisa membantu warga,” kata wanita penggiat sosial Tacie, pada Kamis (12/2/2026).

Nama Mintarsih Ela Ningtias juga tercatat sebagai KPWK (Kader Penyuluh Wawasan Kebangsaan) di Kota Bogor. KPWK adalah kader bentukan Bakesbangpol yang bertugas mengedukasi masyarakat, terutama tentang Pancasila, kebangsaan, dan bela negara.
“KPWK bertujuan menjaga kondusivitas kota, penguatan hak dan kewajiban bela negara, serta meningkatkan pemahaman Pancasila. Dan, bertugas melakukan penyuluhan terprogram kepada masyarakat dan anak-anak,” ucap Tacie.

Selama ini, Tacie juga diikutsertakan sebagai tenaga penyuluh di sejumlah sekolah, mulai dari SD hingga SMA atau SMK di lingkungan Kota Bogor.
“Kegiatan yang pernah diikuti diantaranya edukasi Pancasila di SDN Rangga mekar bersama Seklur Ranggamekar, melakukan edukasi Pancasila di SMPN 11 hingga di SMK Citra Pariwisata, di Mulyaharja. Selain itu, juga di kegiatan bakti sosial lainnya,” tutur Tacie.

Sebagai salah satu calon Ketua RW 13, Tacie berujar, dilatarbelakangi dukungan dari warga. Namun, ia sendiri menyerahkan jalan cerita pada Yang Maha Kuasa.
“Bagi saya, pemimpin itu harus siap menderita. Pemimpin apapun itu. Kata bijak itu merujuk pada konsep Leiden is Lijden (Bahasa Belanda), yang berarti memimpin adalah menanggung penderitaan. Yang maknanya, pemimpin wajib mendahulukan kepentingan untuk yang banyak, mau berkorban, hidup sederhana, dan mengedepankan semangat gotong royong sebagaimana prinsip yang digaungkan Bung Karno,” tukasnya.

Ia mengagumi sosok kepemimpinan terdahulu Soekarno, Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, dan Jenderal Hoegeng yang dikenal hidup sederhana dan memegang teguh prinsip.
“Falsafah ini menuntut ketulusan hati untuk melayani, di mana penderitaan pemimpin menjadi jalan untuk membentuk karakter yang kuat dan menghasilkan dampak positif bagi semuanya,” ucapnya diplomatis.
Lalu, apa yang menjadi visinya? Tacie menjawab, mampu menciptakan warga memiliki rasa kebersamaan sebagai prasyarat terciptanya kerukunan, keutuhan, kedamaian.
“Misi, menghimpun warga dalam menciptakan suasana yang penuh rasa gotong royong, dan memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan warga,” tuntasnya. (Nesto)
