INTELMEDIA – Dinas Kesehatan Kota Bogor memastikan virus Nipah belum ditemukan di kota hujan. Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan kepada manusia terutama kelelawar buah sebagai reservoir utama.
Penyakit virus Nipah pertama kali diidentifikasi berdasarkan laporan wabah yang terjadi pada peternak babi di sebuah desa di Sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1998-1999 yang berdampak hingga Singapura. Dari wabah tersebut, dilaporkan 276 kasus konfirmasi dengan 106 kematian (CFR: 38,41%). Kendati belum ditemukan kasus, Dinas Kesehatan Kota Bogor meminta masyarakat tetap waspada.
“Sehubungan dengan ditemukannya kasus nipah di West Bengal India pada Januari 2026, Dinas Kesehatan Kota Bogor dengan ini menyampaikan, Penyakit Nipah adalah penyakit emerging zoonotik yang disebabkan oleh virus Nipah yang termasuk ke dalam genus dan Henipavirus famili Paramyxoviridae,” kata Kadinkes Kota Bogor, dr. Erna Nuraena kepada media online ini, Kamis (5/2/2026).
Penyakit ini, sambungnya, dapat ditularkan dari hewan, baik hewan liar atau domestik, dengan kelelawar buah yang termasuk ke dalam famili Pteropopidae sebagai host alamiahnya. Penularan pada manusia dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Penularan dari hewan ke manusia umumnya terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh saliva, urin, atau feses kelelawar, seperti buah yang tidak dicuci bersih atau nira kurma mentah.
“Selain itu, kontak langsung dengan hewan perantara yang terinfeksi, terutama babi, juga menjadi sumber penularan yang penting, sebagaimana dilaporkan pada beberapa kejadian wabah,” imbuhnya.
Penularan dari hewan, lanjutnya, virus Nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia juga melalui kontak erat dengan penderita, terutama melalui paparan cairan tubuh seperti air liur, sekret pernapasan, darah, atau urin.
Dia berujar, penularan ini sering dilaporkan pada anggota keluarga, perawat, maupun tenaga kesehatan yang merawat pasien tanpa penggunaan alat pelindung diri yang adekuat, sehingga berpotensi menimbulkan penularan lanjutan dan kejadian luar biasa. Masa inkubasi penyakit Nipah umumnya berkisar antara 5 hingga 14 hari setelah terpapar virus. Namun, pada beberapa kasus dilaporkan masa inkubasi yang lebih panjang, dengan rentang antara 4 hingga 45 hari.
“Penyakit Nipah umumnya diawali dengan gejala tidak spesifik seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lemas, yang kemudian dapat berkembang dengan cepat menjadi gangguan yang lebih berat berupa gejala neurologis, terutama ensefalitis akut, yang ditandai dengan penurunan kesadaran, disorientasi, kejang, hingga koma, serta dapat disertai gangguan pernapasan akut. Dan, hingga saat ini belum tersedia pengobatan antivirus spesifik maupun vaksin untuk penyakit Nipah,” ucap Erna.
Sebagai pencegahan terhadap penyakit virus Nipah, lanjut Erna, dilakukan utamanya melalui pengendalian faktor risiko yakni tidak mengonsumsi nira/aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengontaminasi sadapan aren atau nira pada malam hari, sehingga nira perlu dimasak sebelum dikonsumsi. Serta, mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh hingga mengonsumsi daging ternak dalam kondisi matang.
“Hingga saat ini, belum dilaporkan kasus konfirmasi penyakit virus Nipah pada manusia di Indonesia. Akan tetapi, beberapa penelitian atau publikasi telah menemukan adanya temuan virus Nipah pada kelelawar buah (genus Pteropus) pada beberapa negara termasuk Indonesia. Sebagai bentuk kewaspadaan dini, Dinas Kesehatan Kota Bogor telah melakukan deteksi dini melalui pemantauan perkembangan kasus dan negara terjangkit,” tuntasnya. (Nesto)
