Andriansyah (dua dari kiri), bersama Mentan Amran Sulaiman dan Anggota DPR RI Adian Napitupulu
INTELMEDIA – Pernah dengar Talas Beneng? Salah satu komoditas pertanian ini ternyata memiliki nilai tambah ekonomi menembus pasar eskpor. Talas Beneng merupakan yang merupakan komoditas tanaman pangan belakangan ini sedang digalakkan.
Dihimpun dari berbagai sumber, Talas Beneng merupakan salah satu jenis umbi talas yang disingkat dari kata besar dan koneng (kuning). Tanaman dari spesies Xanthosoma Undipes K.Koch ini memiliki ukuran di atas rata-rata talas pada umumnya. Panjangnya sekitar 120 cm, dengan bobot sekitar 35 hingga 42 kg dan ukuran lingkar luar batang mencapai 50 cm.
Talas Beneng ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung yang dikirim ke Industri makanan sebagai bahan campurannya dan daun kering dapat export ke Austratlia, Malaysia dan New Zealand dimanfaakan sebagai bahan baku rokok.
Adalah Andriansyah, salah satu penggiat budidaya Talas Beneng di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Kepada media online ini, ia bertutur, gagasan budidaya ini terinspirasi saat anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Adian Napitupulu kunjungi petani setempat.
“Berawal dari kunjungan salah seorang anggota DPR RI, Adian Napitupulu ke salah satu desa di Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor yaitu Desa Tangkil bertemu dengan petani Talas Bening atau Talas Beneng,” kata Andriansyah mengawali cerita, Kamis (23/10/2025).
Dia melanjutkan, nama petani tersebut, Agus Kosasih yang saat itu tengah menjemur hasil rajangan daun Talas Beneng di depan rumahnya.
“Lalu, setelah berdiskusi bersama dengan Pak Haji Agus ada 3 hal kesulitan yang dialami petani yaitu bibit, pupuk dan pasar. Singkatnya, dijadwallah petani terkait bertemu dengan tim Kementerian Pertanian agar potensi bagus talas bening ini bisa meningkat dan menjadi salah satu tanaman tumpang sari yang keuntungan untuk para petani,” ucap Andriansyah.
Didampingi anggota DPR RI Adian Napitupulu yang berasal dari daerah Pemilihan Kabupaten Bogor dan dirinya, sambung Andriansyah, petani tersebut bertemu Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan tim Kementan.
“Selanjutnya, 3 hal kesulitan petani perlahan bisa terbantu, yaitu bibit, pupuk dan pasarnya. Alhamdulillah sampai hari ini kami sudah membentuk paguyuban petani Talas Beneng Bogor dan sudah lakukan pengembangan lahan kurang lebih 50 hektar di Kecamatan Cigombong, Cijeruk juga Caringin yang ada di kawasan Gunung Salak juga Gunung Gede,” lanjutnya.
Andriansyah sampaikan, perkembangan pesat budidaya Talas Beneng tersebut berkat bantuan aktivis 98 yang juga menjabat anggota DPR RI, serta Kementan.
“Ini support dan dukungan luar biasa untuk para petani. Kami ucapkan terimakasih atas support Pak Adian Napitupulu, Kementrian Pertanian Bapak Amran Sulaiman, Direktur Akabi Ibu Diah, juga Dinas Pertanian Kab Bogor, termasuk BPP wilayah 7 Pak Dindin,” tukasnya.
“Kami sekarang sudah mendirikan gudang pengolahan Talas Beneng di Kecamatan Cigombong sebagai tempat jual hasil panen para petani. Saya, Andriyansah sebagai pengelola gudang olahan dan meyakini potensi tanaman talas bening sangat baik,” imbuhnya.

Gertam, Gerakan Tanam Bersama Talas Boneng
Selain umbi atau bonggolnya bisa dibuat tepung sebagai bahan makanan yang memiliki kadar protein yang tinggi, lanjutnya, juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabetes karena non gluten.
“Tanaman ini daunnya diolah dijadikan bahan subtitusi tembakau sebagai rokok herbal non nikotin. Ini bagus di pasaran lokal dan luar negeri karena sehubungan dengan daun rajangan Talas Bening untuk rokok ini tidak mengandung nikotin dan tidak masuk kategori barang yang kena cukai sehingga harganya terjangkau,” terangnya.
Harapan dari paguyuban Petani Talas Beneng ini, masih menurut Andriasnyah, adalah petani bisa mendapatkan penghasilan lebih dari tanaman tumpangsari.
“Karena ini memanfaatkan lahan kosong, misal ada yang tanam pisang, duren, jati, sayuran atau lainnya, pinggirnya ditanam Talas Beneng. Untuk Proses tanam dari awal tanam petani menunggu sekitar 4 bulan baru bisa panen dan berlanjut tiap sebulan sekali panen,” jelasnya.
Petani, sebutnya, harus belajar sabar karena daun tidak langsung bisa besar dan tidak langsung berat maka dibutuhkan kerjasama dan disiplin dalam perawatan juga pengelolaan.
“Ini harus perlahan tapi pasti menunggu paling tidak 3 kali atau 4 kali panen daun. Untuk umbi itu bisa panen bagus diumur 24 bulanan diolah untuk berbagai makanan. Nah, bagi yang mau bergabung menjadi mitra tani silahkan datang ke gudang olahan kami di Tugujaya Benteng, Cigombong, Kabupaten Bogor,” tuntas Andriansyah. (Eko Okta)
