INTEKMEDIA – Sore itu, suasana ruang kerja salah satu anggota DPRD Kabupaten Bogor terasa hangat. Di balik tumpukan berkas dan agenda rapat yang padat, H. Ading Ahmad Nadzir membuka perbincangan dengan nada teduh, namun penuh keprihatinan seorang ayah yang menasihati anak-anaknya.
Ia menyinggung wajah birokrasi di Kabupaten Bogor yang menurutnya belum banyak berubah. “Mayoritas pejabat kita, para pengambil kebijakan di Kabupaten Bogor, mindsetnya masih selalu tanda kutif proyek,” ujarnya pelan, Kamis (2/10).
Sekilas kalimat itu sederhana, tapi sarat makna. Menurutnya, lebih dari 30 dinas di Kabupaten Bogor, atau tepatnya ada 36 OPD, masih memandang proyek sebagai tujuan utama, bukan pelayanan sebagai ruh dari pemerintahan.
Ading melanjutkan, pembangunan fisik memang penting, tetapi jangan sampai berhenti pada beton dan aspal karena keadilan sosial adalah amanah utama yang harus dijaga.
“Saya tidak bermaksud menasehati, melainkan hanya mengingatkan bahwa esensi pemerintahan itu bukan sekadar proyek, tetapi bagaimana menyejahterakan masyarakat dengan sidik atau jujur dan transparant, kemudian amanah dalam arti dapat dipercaya dan jangan malah berkhianat kepada masyarakat, lalu tabligh yaitu menyampaikan sesuatu dengan baik, dan fathonah yaitu selalu mengedepankan profesionalitas dengan cerdas dan bijaksana,” tutur politisi Fraksi PKS ini dengan lembut dan humanis agamis.
“Jika tidak, maka saya khawatir terjadi bahwa Kabupaten Bogor benar-benar tidak akan menjadi kabupaten terdepan, maju dan istimewa dengan mengusung jargon tegar beriman. Bukan saya pesimistis tapi ini harus saya ingatkan,” imbuhnya.
Ia pun mengingatkan sebuah hadis: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; yang kalian doakan kebaikan dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; yang kalian laknat dan mereka pun melaknat kalian” (HR. Muslim). Bagi Ading, hadis ini mengajarkan bahwa pemimpin sejati hadir untuk melayani dengan hati, bukan sekadar mengatur proyek.
Tak lupa ia menambahkan hadis lain yang lebih menekankan aspek amanah kepemimpinan. Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). “Ini peringatan keras. Jabatan bukan kehormatan semata, tetapi tanggung jawab yang berat di hadapan Allah,” ucapnya lirih.
Menurut Ading, prinsip-prinsip tersebut bisa menjadi pondasi untuk mengubah wajah birokrasi. Pemerintahan harus hadir dengan paradigma baru, bukan hanya menyusun proyek yang menguntungkan kelompok tertentu, tetapi juga kebajikan dan kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat kecil.
Ading lalu membagi dua pendekatan yang ia sebut “pendekatan bumi” dan “pendekatan langit”. Pendekatan bumi, katanya, mencakup profesionalitas, keadilan, kesetaraan, dan pemerataan. Semua itu adalah syarat mutlak yang tidak boleh ditawar jika Kabupaten Bogor ingin benar-benar melangkah maju.
Namun, pendekatan bumi saja tidak cukup. “Pendekatan langit yang saya maksud itu menjemput keberkahan. Keberkahan hanya datang bagi mereka yang tulus menjalankan amanah. Kalau niatnya sekadar proyek, bagaimana keberkahan itu bisa hadir?” ujarnya sambil menekankan pentingnya keikhlasan.
Menurutnya, keberkahan dalam memimpin tampak nyata dalam bentuk kepercayaan rakyat, kebijakan yang tepat sasaran, dan kesejahteraan yang merata. Semua itu tak akan mungkin tercapai tanpa niat tulus dan keberpihakan yang jelas kepada masyarakat.
Ia mengingatkan, Kabupaten Bogor sejatinya memiliki modal besar untuk menjadi daerah termaju di Jawa Barat, bahkan di Indonesia. Potensi sumber daya alam dan manusia melimpah, hanya saja semuanya bisa terbuang sia-sia jika birokrasi masih sibuk dengan proyek semata.
“Kalau mindset ini tidak segera diubah, sulit berharap Bogor benar-benar menjadi kabupaten termaju. Padahal jargon Tegar Beriman sudah lama kita gaungkan. Sekarang tinggal keseriusan dan keikhlasan para pejabatnya saja, mau tidak mereka bekerja dengan niat baik,” pungkasnya, menutup perbincangan sore itu dengan penuh harapan. (DidiS)
